Dipanggil Pengawas

Kunci jawaban adalah hal yang paling ngeselin dalam ujian nasional. Orang yang make kunci jawaban ini selain berbuat curang, juga ngerepotin orang lain. Kalo nggak dilaporin, untung di mereka. Kalo dilaporin, semuanya kena dan harus menanggung susahnya bareng-bareng. Kayak yang kemarin-kemarin lagi rame, karena ada yang ngelaporin tentang kebocoran soal dan penyalahgunaan kunci jawaban, rencananya Wakil Presiden malah minta ujian nasional buat diulang.

Yang make kunci jawaban siapa, yang ngulang siapa. Di sekolah gue juga ada beberapa orang yang diem-diem make kunci jawaban. Ada yang belajar bener-bener, dapet nilainya pas-pasan. Ada yang make kunci jawaban, dapet nilainya bagus sendiri. Nggak ngerti lagi deh gue. Bener-bener hina.

Karena katanya ujian nasional nggak menentukan kelulusan, kalo gue jadi kepala sekolah, orang-orang yang make kunci jawaban ini mungkin boleh seneng karena ujian nasionalnya lulus. Tapi, gue nggak akan ngelulusin mereka dari sekolah. Biar ngulang lagi satu tahun. Khan enak.

Terlepas dari masalah kunci jawaban, biarkanlah mereka sadar sendiri fungsinya sebagai manusia. Gue pengin nyeritain hal lain tentang ujian nasional kemarin. Jangan nanya gue belajar apa nggak. Gue orangnya males, kalo udah di rumah nggak bakalan mau megang buku pelajaran. Makanya, di sekolah gue belajarnya fokus biar bener-bener paham dan nggak perlu ngulang lagi di rumah. Itu prinsip yang gue pegang dari dulu. Seandainya dapet jelek pun, jeleknya masih wajar.

Nggak kayak ujian nasional tahun-tahun sebelumnya, hari pertama anak IPA diisi dengan pelajaran bahasa Indonesia dan Kimia (biasanya Biologi). Karena gue penulis (cieilah), pelajaran bahasa Indonesia nggak usah diragukan lagi karena gue yakin bisa dapet bagus. Untuk pelajaran Kimia, banyak-banyak minum air putih aja sebelum ujiannya dimulai. Sampe kembung

Hari kedua, pelajaran Matematika dan Biologi. Untuk pelajaran Matematika, gue serahkan semuanya kepada pensil 2B dan komputer yang memeriksa. Maklum, ujiannya masih manual. Nah, kalo Biologi, masih bisa dipahamin deh soal-soalnya. Waktu ujian dua jam, baru satu jam, sekelas udah selesai semua. Melihat itu, pengawasnya pun ngajak kita ngobrol untuk buang-buang waktu. Dan nggak lama kemudian, salah satu pengawas yang cewek bisik-bisik ke pengawas yang cowok. Sampe akhirnya, pengawas yang cowok menatap gue, lalu bertanya, "Vin, kamu nulis buku?"

Yang kemudian dilanjutkan dengan obrolan panjang sampe bel pulang berbunyi.

Hari terakhir, pelajaran bahasa Inggris dan Fisika. Terima kasih kepada game-game masa kecil yang udah mengajarkan bahasa Inggris secara nggak langsung. Karena kalian, gue bisa ngerjain ujian bahasa Inggris dengan lancar. Saat istirahat, dan sebelum ujian yang terakhir, gue tiba-tiba dipanggil sama guru Matematika. Pak Tara, nama gurunya, sampe turun ke lantai dua cuma buat manggil gue. Buset, ada apaan ya? Gue kayaknya nggak pernah lupa buat nyirem WC kalo habis kencing.

Pak Tara nanya ke gue, "Hayooo, coba inget-inget tadi ada masalah apa...." sambil senyum-senyum. Sepanjang perjalanan di tangga menuju ke atas, gue nginget-nginget semua kesalahan yang pernah gue lakukan dari pagi tadi sampe sekarang. Gue nggak nyontek pas ujian. Gue nggak jorokin orang dari tangga. Dan yang pasti, gue nyirem WC habis kencing tadi. Salah apa gue....

Sampe di lantai 4, guru-guru pengawas udah pada berdiri di depan ruang pengawas. Mereka ngeliatin gue dengan serius seakan-akan gue baru aja mecahin pot bunga. "Hayoooo, tuh ngomong sama mereka," kata Pak Tara. Pengawas cowok yang kemarin kemudian bertanya ke gue, "Kok kemarin ngerjain Biologi-nya cepet banget?" Dia curiga kalo gue make kunci jawaban.

"Loh, emang soalnya gampang, Pak. Pas saya udah selesai kan satu kelas juga udah selesai semua!" jawab gue. Dia masih nggak mau kalah, "Ah, bohong kamu... Masa cepet banget selesainya?"

"Ya, emang soalnya gampang, Pak!" Semua pengawas masih ngeliatin gue. Kemudian, kepala sekolah gue ikutan dateng juga dan ngeliatin. Buset, salah apaan gue? Suasana semakin tegang. Sampe salah satu dari pengawas itu ngeluarin hape dan bilang, "Eh, sini foto dulu sama Ibu. Anak Ibu dari kemarin minta foto bareng sama kamu." 

"Loh?" Gue bingung. Ini ada apaan sih sebenernya. Gue baru aja dicurigai karena berbuat curang, sekarang semua pengawas udah ngeluarin hapenya dan minta foto bareng gue. Termasuk pengawas cowok yang tadi. Pak Tara yang ngeliatin gue cuma ketawa-ketawa. Kurang ajar, gue ternyata dikerjain. Udah panik dan mikirin apa aja kesalahan yang gue lakukan pagi ini, ternyata... dikerjain.

"Iya nih, baru tau ternyata kamu yang murid-murid Bapak omongin itu. Ternyata beneran. Baru nyadar sekarang, untung udah foto-foto ya kita hahaha," kata si pengawas cowok.

It's something

Pengawas-pengawasnya tau gue siapa, karena mereka pernah nonton video-video gue dan ada murid mereka yang kenal sama gue. Pas ngerjain soal ujian Fisika, pengawasnya senyum-senyum aja ngeliatin gue. It's something. Untung aja ini hari terakhir. Dan saat bel pulang berbunyi, beban sekolah gue selama 12 tahun di sekolah yang sama akhirnya bisa dilepas. Lega.

Sebelum pulang, gue dipanggil sama kepala sekolah, "Vin, itu pengawasnya manggil kamu.."

Gue masuk ke ruang pengawas. "Buset, ini ada apaan lagi ya?" pikir gue dalem hati. Kemudian, salah satu pengawas yang cewek manggil gue, ngeluarin hape, buka Instagram. Sambil senyum, dia bilang,

"Follback ya!"

From ZERO to HERO

From Zero to Hero

Sebelumnya, biarkan gue mulai dengan menceritakan tentang awal mula gue nge-blog dan tentang lahirnya blog ini. Gue baru mulai nge-blog sejak tahun 2011. Di dunia internet, pertama kali gue masih ngaskus. Iya, gue belum tau apa itu blog. Waktu itu, secara nggak sengaja gue baca buku Raditya Dika yang kebetulan tergeletak tak berdaya di kamar gue. Buku ini punya abang gue ternyata.

Setelah gue baca, ternyata ini orang kampret banget. Lucu abis, sob. Dari tulisan, ternyata seorang penulis bisa menyampaikan sebuah pesan melalui cerita yang dipadukan komedi dengan sudut pandang yang unik. Gue mulai tertarik untuk mencoba nulis. Waktu itu, gue baru tau bahwa ternyata buku pertama Radith adalah hasil-hasil tulisannya dari blog. Keren abis. Gue juga pengin jadi penulis.

Blog pertama gue di tahun 2011 isinya ya curhatan/cerita-cerita ngaco seorang pelajar. Tentang pengalaman saat di MOS, dihukum guru, diomelin kakak kelas dan sebagainya. Waktu itu gue masih inget, gue baru kelas 2 SMP. Blog gue ini juga pembacanya masih dikit, gue jadi males nulis postingan dan alhasil... gue lupa password blog pertama gue ini. PAHIT. Nggak menyerah, gue malah semakin bersemangat untuk aktif nge-blog lagi. Gue juga pengin jadi penulis. 

Blog yang sekarang kalian baca ini tercipta awal 2012. Dengan tema dan nama "Pelajar Absurd". Alasan gue memakai nama ini simpel, karena gue sendiri masih seorang pelajar saat itu (sekarang juga). Gue pun bingung, kata apa yang harus gue pakai untuk melengkapi kata pelajar? Gue browsing sana-sini, blogwalking dari blog satu ke blog lainnya, tapi nihil. Nggak dapet referensi apa-apa. 

Tapi, kenapa gue nggak coba main ke blog si Radith? Siapa tau gue dapet referensi? Gue terus coba browsing dan blogwalking, akhirnya sampailah gue di blog si Radith. Judul blognya: Raditya Dika dan Hal Absurd lainnya. Hmm, absurd? Jujur, saat itu gue baru pertama kali melihat kata absurd. Gue coba translate lewat google, ternyata absurd artinya kurang lebih begini: konyol, menggelikan, nggak masuk akal.

Wah, gue langsung tertarik dan coba menggabungkan kata pelajar dengan absurd. Dan jadilah Pelajar Absurd.

The Story Begins

Gue mulai aktif nge-blog. Mulai kenal sama penulis dan blogger-blogger terkenal yang akhirnya menginspirasi gue. Siapa aja? Baca di sini, deh. Blog gue mulai berkembang seiring gue rajin nulis postingan. Gue suka nyuruh temen-temen sekolah gue untuk baca postingan gue, supaya bisa memotivasi gue untuk lebih semangat. 

Pengen mengasah kemampuan nulis, gue lalu mencoba untuk iseng ikutan lomba blog (nulis) buat dapetin Sony Vaio. Hitung-hitung nambah pengalaman. Sayang, semesta belom mengizinkan gue untuk menang. Gue belajar dari pengalaman itu, melihat kekurangan gue dimana, dan mencoba untuk memperbaikinya. And this, postingan lomba blog pertama gue.

4 bulan kemudian, sekitar bulan November 2012, gue ikutan lomba blog dari JNE. Temanya: Pengalamanku Bersama JNE. Kebetulan, gue juga punya sedikit pengalaman selama kirim-kirim barang/terima barang dengan JNE. Gue menuangkan ide-ide dan pengalaman yang gue alami, dan singkat cerita, tulisan gue terpilih masuk 22 besar dan berhak mendapatkan voucher belanja Rp100.000. Lumayan, awal yang bagus menurut gue. 

Waktu itu, Alitt (@shitlicious) juga ikutan, dan nasibnya sama kayak gue — 22 besar. Sayang, semesta belom mengizinkan gue untuk masuk 3 besar. Tapi nggak apa-apa lah. Lebih baik dari yang sebelumnya. 

Seiring waktu berjalan, gue semakin sering nulis di blog. Iya, walaupun cuman tulisan absurd. Tapi, gue senang bisa berbagi dengan para pembaca lewat tulisan. 

Ke-absurd-an blog gue pun membawa berkah. Gue dihubungi editor dari salah satu penerbit. Dia mengenal gue dari blog absurd ini, yang gue pelihara setahun belakangan. Singkat cerita (lagi), setelah pertemuan itu, gue pun membuat sebuah naskah. Naskah pertama buku gue. Selama 2–4 minggu gue aktif di depan komputer, mengetik naskah. Hasilnya? Sekarang, buku pertama gue (Student Guidebook for Dummies) udah terbit, dan tinggal launching ke Gramedia. Perjalanan gue bertemu editor ini udah pernah gue ketik di sini dan sini.

Semakin sering gue nulis, ternyata hasil tulisan gue juga ikutan berkembang. 

April 2013, gue lalu mencoba ikutan lomba blog, lagi. Waktu itu, salah satu seller Rubik’s langganan gue mengadakan lomba review. Review tentang toko rubik si seller. Kebetulan, gue pengen menceritakan pengalaman gue juga dengan rubik, sekaligus memasukan sedikit review-review dan “testimoni” tentang toko itu. Iya, gue ikutan. 

Di bulan yang sama, gue yang sedang patroli di timeline twitter melihat sebuah info lomba blog. Lomba blog Teknologi Hijau dari blogdetik dan Daihatsu. Jujur, gue nggak membayangkan hadiahnya saat itu. Yang gue tau, gue paham dengan tema yang akan dibahas, dan tergeraklah tangan gue untuk mengetik apa yang gue tau ini di blog. Iya, gue ikutan. 

Kenapa gue ikutan kedua lomba blog diatas? Kebetulan, gue paham dengan tema yang akan dibahas. Rubik, ini permainan sehari-hari gue, dan semua rubik yang gue punya, gue beli dari toko yang mengadakan lomba itu. Teknologi Hijau, ini adalah pembahasan yang menarik bagi gue. Selain tergabung dengan komunitas pecinta lingkungan di Kaskus, gue juga sering baca-baca artikel tentang teknologi ramah lingkungan. Jadi, gue lumayan paham.

From ZERO to HERO

Semesta mempertemukan gue dengan 2 kebetulan ini. Di bulan April 2013, gue menyelesaikan 2 postingan tentang lomba blog, dan 8 postingan absurd lainnya (liat aja Widget "Cerita2 Absurd Gue" pada bulan April). Jadi, total 10 postingan dalam 1 bulan. Lumayan produktif. 

Mei 2013, kebetulan lagi, 2 lomba blog yang gue ikuti akan mengumumkan pemenangnya. Tanggal 14 Mei 2013, gue diberitahu oleh seller rubik, bahwa gue juara pertama dalam lomba review yang diadakan olehnya. Nggak nyangka, ternyata orang absurd kayak gue bisa juara pertama dalam lomba ini. Postingannya bisa kalian baca di sini.

Nggak cukup sampai disitu, 18 Mei 2013, sekitar pukul 05:00 pagi, gue terbangun dari tidur. Sebagai anak gaul, setelah buka mata, gue langsung ngecek twitter. Banyak mention yang masuk ngucapin selamat karena katanya gue udah menang lomba blog Teknologi Hijau. Gue ngomong dalam hati “Ah becanda lo... ini mimpi kayaknya, gue belom bangun.” 

Gue lalu ngecek website blogdetik dan..... bengong dulu sekitar 30 detik. Agak nggak percaya. Gue menyadarkan diri kembali dan melihat nama blog gue ada di urutan paling atas. Iya, gue juara pertama lagi! FYI, hadiahnya iPhone 5. Postingannya bisa kalian baca di sini.

I deserve it.

From Zero to Hero
Lomba nulis dari Kaskus dan JNE.

From Zero to Hero
Lomba nulis di Kaskus lainnya.

From Zero to Hero
Lomba review di blog.

From Zero to Hero
Lomba #TeknologiHijau

Sekarang, semesta bener-bener mengizinkan gue untuk aktif nulis.

Sebenernya, sebelum pengumuman lomba juga gue udah pernah bilang bahwa nggak penting gue menang atau kalah. Sama aja. Yang penting gue bisa berbagi sama semua orang dan pembaca lewat tulisan. Yeah, i do what i love, and i love what i do. Menurut gue, hadiah itu HANYA apresiasi atas apa yang gue tulis. Gue menempatkan hadiah di posisi kedua. Posisi pertama? Respon dari para pembaca. Iya. Itu lebih penting, bagi gue.

Sebuah tulisan tanpa para pembaca itu kosong. Ibarat bumi tanpa ada manusia di dalamnya. Jadi, berterimakasihlah kepada semua pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan kalian. Tanpa para pembaca setia, tulisan kita bukan apa-apa. - Kevin Anggara, 16 tahun, pelajar absurd.

Menurut gue, nge-blog itu adalah lebih kepada berbagi dengan para pembaca. Bukan begitu? Hehe. Nggak sampai situ aja, gue pernah diundang ngisi acara kopdar SFTH Kaskus. Jadi, gue dikasih sesi untuk jadi pembicara gitu. Semacam talkshow pertama lah bagi gue. Nih, buat yang mau baca field report-nya di sini.


From Zero to Hero

Perception

Semenjak Kemal Palevi terkenal lewat ciri khas absurd-nya di Standup Comedy, apa-apa yang berkaitan dengan absurd pasti dibilang "meniru" Kemal. Padahal, belum tentu maksud orang yang memakainya begitu. Masih banyak contoh lain yang mirip kayak gini. Misalnya blog dengan judul "catatan sesat mahasiswa" pasti dibilang "meniru" Alitt, padahal belum tentu maksudnya begitu. Menurut gue, mungkin mereka hanya terinspirasi. Yah, namanya juga hidup. Biar orang yang menilai diri kita. 

Mungkin itu aja yang bisa gue sampein kali ini. Gue rasa udah kepanjangan, yah. Oh iya, mengenai nama absurdisme, gue udah jelasin darimana awal mula namanya di sini. Yang kalian baca ini adalah sedikit kisah perjuangan gue selama nge-blog sampai sekarang. Sebuah awal pahit yang berakhir manis. Percaya sama gue, setiap usaha kalian pasti ada hasilnya, sekecil apapun itu. Jadi, jangan cepet nyerah dan putus asa. If you can see it, you can have it. Sometimes, you need to be freak to create something great.

Sebelum postingan ini berakhir juga, gue pengin ngucapin terimakasih banyak buat pembaca setia blog gue ini. Dulu yang blog gue bukan apa-apa, masih NOL, dan pembacanya sedikit. Sekarang, udah bisa berkembang dan meningkat lumayan bagus. Tanpa kalian semua, gue bukan apa-apa. Terimakasih! :')

10 Tahun Lagi...


"10 tahun lagi... Gue bakalan jadi apa, ya?" Mungkin orang bakalan bertanya-tanya sama dirinya sendiri. Gue bakalan jadi apa nanti? Kerjaan gue apaan, ya? Gue udah nikah belum, ya? Mantan gue yang duluin gue nikah udah punya anak belum, ya? Kangen Band masih ada nggak? Indonesia makin maju nggak? Dan masih banyak pertanyaan lain tentang keinginan yang mungkin bakalan terwujud atau nggak.

Iya, keinginan itu kalo nggak terwujud, ya terwujud. Tergantung gimana usaha kita untuk mewujudkannya. Memang, terkadang apa yang kita inginkan berbeda dengan yang orangtua kita inginkan. Katanya sih, orangtua tau yang terbaik untuk anaknya. Tapi, anak yang menjalankan semuanya, sob. Jadi menurut gue, anak lebih tau yang terbaik untuk dirinya sendiri. Sama kayak pacaran. Kita yang pacaran, kok harus ngikutin kriteria pacar dari orangtua? Iya-in aja.

10 tahun lagi, mungkin gue bakalan udah lulus kuliah dengan ngambil jurusan DKV yang selama ini gue nantikan. Sejak SD, gue suka gambar. Ekskul gue juga nggak jauh-jauh dari dunia gambar. Dulu, gue pengen banget kuliah yang berhubungan dengan gambar, dan lulus jadi SaBar (Sarjana Gambar). Baru sejak SMP sampai sekarang ini, gue pindah haluan ekskul ke olahraga futsal. Iya, tanpa menggantungkan hobi gue untuk gambar. 


Dalam sehari, minimal gue sisain waktu untuk bikin satu gambar. Apapun itu, gue gambar sesuai apa yang gue rasakan. Kalo lagi seneng, gue gambar badut lengkap dengan balon-balon yang lagi dipegang. Kalo lagi sedih, gue gambar badut lagi galau sambil menatap jendela, melihat balon-balonnya terbang ke atas. Hidup itu ibarat balon, kadang kembang, kadang kempis. Kalo mau sukses, ya dipompa terus balonnya dengan usaha. 


10 tahun lagi, mungkin gue bakalan udah punya calon pendamping hidup yang setia menemani gue ke depannya. Iya, nantinya kita bakalan menjalin hidup bersama. Tertawa bersama, saling berbagi cerita ke anak-cucu nantinya. Setiap pagi nggak lupa sekedar mengucapkan "selamat pagi" ditambah dengan ciuman di kening. Menikmati dinginnya pagi hari ditemani secangkir kopi dan teh, sambil melihat anak-anak kita bermain kesana kemari. 

Lalu, lama kelamaan kita akan dimakan sang waktu. Menutup usia dengan meninggalkan sejarah yang udah kita buat sebelumnya. Sambil melihat dari atas, anak-cucu kita yang sedang meneruskan sejarah kita. Indah, bukan?

10 tahun lagi, Indonesia udah ulang tahun yang ke-78. Dan mungkin, Indonesia udah sukses, beda dengan sekarang. Indonesia udah jadi negara maju, bisa menyaingi  Amerika atau mungkin Jepang. Udah nggak ada alay dimana-mana, Kangen Band, dan juga makhluk-makhluk sejenisnya. Indonesia punya banyak generasi muda yang kreatif, yang siap membanggakan nama Indonesia ke luar negeri. 

Semua rakyat-nya bisa hidup berdampingan, tanpa melihat perbedaan yang ada. Semua rakyat-nya bisa saling membantu satu sama lain, tanpa meminta balasan. Karena gue percaya, perbuatan baik kita yang didasari oleh keikhlasan, nantinya akan dibalas oleh Tuhan. Cepat atau lambat. 

10 tahun lagi, mungkin, blog gue pageview-nya udah nyampe 1.000.000. Blog gue bakalan makin rame. Buku gue, hmm.. mungkin semakin bertambah kalo gue tetep rajin nulis. Buku gue udah bisa jadi best-seller di toko buku. Buku gue semakin banyak yang baca. Tulisan gue semakin berkembang, nggak cuman hal-hal nyeleneh dan bodoh yang bikin ketawa, tapi ada pelajaran yang bisa di petik dari tulisan itu.

10 tahun lagi, semua menjadi lebih baik.

Amin.

---------------------------------

Sesudah membaca postingan gue diatas, kalian pasti mikir "Tumben nih si kampret, tulisannya bisa serius juga!" Iya, gue juga bingung kenapa bisa. Kalian juga pasti nggak nyadar, ada kategori/label baru di blog gue yang namanya #TematicBlogJB

Iya, jadi salah satu komunitas blogger yang gue ikuti — Jamban Blogger — ngadain "tematic blog". Tematic blog itu adalah update blog setiap hari Sabtu yang temanya itu udah ditentukan oleh Jamban Blogger. Kebetulan, tema minggu ini adalah tentang "10 tahun lagi". Semoga 10 tahun lagi, Jamban Blogger jangkauannya makin luas, dan menjadi forum blogger terbesar di Indonesia. Jadi, yaudah. Makasih udah luangin waktu berharga kalian, sekedar untuk baca tulisan gue ini. Sekian, sob!



Pertemuan Absurd Dengan Editor - 2



Kamis kemarin, gue kembali melakukan pertemuan absurd dengan editor. Setelah asik ber-sms ria sampai lupa makan 3 hari, akhirnya ditentukan tempat pertemuan selanjutnya: Plaza Festival. Kamis siang itu, setelah pulang sekolah, gue bersama seorang teman - yang sebelumnya udah gue ajak buat memandu gue kesana - berangkat naik busway a.k.a TransJakarta. FYI aja, ini kali kedua gue naik busway. Sebagai anak yang dilahirkan di ibukota Indonesia, gue merasa gagal. 

Pertama kali gue naik busway itu udah 4 tahun yang lalu, saat gue masih SD, saat boyband belom merajalela seperti sekarang, saat Sir Alex Ferguson belum pensiun. Itu juga gue udah lupa banget gimana kronologinya sampe bisa naik busway. Ah... mungkin gue dihipnotis. Maklum lah, anak rumahan. Jarang keluar rumah. Keluar rumah juga paling ke Indomaret atau sekolah. 

Tujuan gue ngajak temen, karena ya... dia ternyata tau rutenya. Walaupun ini pertama kali juga bagi kita buat menginjakkan kaki di Plaza Festival. Oh iya, gue sempet nyesek juga. Sesudah mengeluarkan uang 3.500 untuk satu tiket busway, kertas persegi panjang berwarna merah muda itu malah dirobek begitu saja sama penjaga loket. Gue pengen marah, tapi gue tahan. Nyesek nggak sih, setelah sekian lama nggak beli tiket busway, saat baru-baru beli, malah dirobek. Paling nggak gue bayar setengah harga, lah! 

Santai... santai...

Seperti yang gue bilang tadi, ini pertama kalinya lagi (kedua woi!) gue naik busway, setelah 4 tahun. Ternyata suasana dalem busway tuh gini, ya. Rame. Jarang dapet tempat duduk. Desak-desakan. Hih.

Gue duluan yang masuk, minggir!

Karena itulah, mau nggak mau, gue harus pegangan sama: 


Ternyata, susah juga mau naik busway dengan nyaman. Sekarang, gue paham kok perasaan kalian, yang tiap sekolah, kerja atau bepergian harus selalu naik busway. I know that feel, bro.

-

Gue berangkat dari halte olimo, turun di halte Dukuh Atas. Transit lagi menuju Ragunan, turun di halte GOR Sumantri. Dan sesuatu banget ya, dari Dukuh Atas ke GOR Sumantri, isi busway-nya sepi! Huahahaha iya, sepi!
Bangku gue woi! Awas!

Yang tadinya gue desak-desakan, sekarang gue bisa lega. Yang tadinya gue berdiri, sekarang gue bisa tidur-tiduran.  That's life, bro.

Selama perjalanan juga gue menemui tempat-tempat baru. Gedung KPK misalnya. Saat gue melewati gedung KPK kemarin, entah kenapa lagi rame banget dengan lautan orang-orang. Mungkin ada demo tentang buku gue yang belom terbit-terbit.

Bukan Komisi Pasukan Kevin. Bukan!

Jadi, setelah kurang lebih satu jam berada di perjalanan, akhirnya gue sampai juga di GOR Sumantri. 

Ekspetasi.

Kebetulan, Plaza Festival tepat berada di depan halte GOR Sumantri. Langsung aja gue menuju ke Mekdi Plaza Festival, untuk makan siang bareng temen gue. Si editor baru nyampe Mampang saat gue makan siang. 

-

Nggak lama setelah gue selesai makan siang, editor gue yang keren, Elly (@RyAzzura), sampai juga di Plaza Festival bareng Bedu (@BadruAlwahdi), dan Gita (@gigigitz). Entah semalem gue mimpi apa, ternyata celana gue kembaran sama Elly. Cieeee. Jadilah kita nongkrong di J.Co buat ngobrol-ngobrol dan memulai pertemuan ini. 

Ya, pertemuan itu kurang lebih membahas cara-cara promosi buku gue nanti. Dimana rencananya gue bakal ikut dan dibikinin talkshow-talkshow gitu di sekolah se-Jabodetabek! Tujuannya ya buat promo buku gue. Huahahaha. Gue juga dapet komen absurd dari temen gue di forum Jamban Blogger mengenai rencana talkshow ini: 
*dilemparin batu sama anak sekolahan*

Sampai ke ilustrasi cover, waktu itu gue ditanya Gita:

"Ada ilustrasi atau ide nggak kayak gimana cover kamu nanti, biar bisa narik pembeli gitu?"

Gue bingung. Gue sih pengen yang simple, tapi "wah" gitu. Langsung aja gue tanya-tanya sama temen-temen lewat twitter, forum dan via sms. Jawabannya kurang lebih begini:

Ada juga yang absurd + kampret jawabnya:

Pink!

Huft. Dari beberapa obrolan juga gue disuruh buat video tentang salah satu bagian tulisan dalam buku gue. Jadi, orang nggak cuman ngenal gue dari tulisan, tapi juga dari video. Doakan semoga gue bisa, ya. Oh iya... ini ada beberapa sneak-peek sketsa ilustrasi yang bakalan hadir di buku gue nanti. (klik aja buat zoom in)





Dan pasti ini yang kalian tunggu-tunggu. Mengenai terbitnya buku gue, si editor memberitahu bahwa kemungkinan buku gue terbit itu pas liburan sekolah/awal masuk sekolah. Ya sekitar akhir bulan Juni, atau awal bulan Juli. So, tunggu aja.

Ya, kayaknya cuman itu yang bisa gue report-in dari pertemuan absurd dengan editor bagian ke 2. Selesai pertemuan, kita berpisah. Gue sebagai anak Jakarta Barat coba-coba mengelilingi Jakarta Selatan (walau cuman beberapa langkah). Disitu, gue sempet terdiam tanpa kata melihat ketinggian salah satu gedung yang berada di belakang Plaza Festival. Nih:

Bakrie Tower!

Demi planet Neptunus, aslinya lebih tinggi daripada yang digambar. Yaiyalah!

-

In the end of the post, gue mau minta saran dan masukan dari kalian mengenai ilustrasi cover yang  sekiranya tepat buat buku gue. Saran judul juga boleh! Huahahaha. Salam absurd!

Trust me, i'm a blogger.

Pertemuan Absurd Dengan Editor


Cita-cita gue adalah menjadi seorang penulis. Paling nggak bisa nerbitin buku lah. Atau paling nggaknya lagi bisa nyalurin hobi gue nulis di blog ini. Gue emang baru punya rencana bikin naskah saat itu, sampe akhirnya di suatu siang saat pulang sekolah, gue ngecek twitter dan ada mention masuk (bukan dari Maudy Ayunda lagi!) kurang lebih begini: "Hai vin, gue dari Bukune. Boleh minta contact lo nggak?" Pertama gue kira ini modus penipuan baru, tapi karena gue orangnya gampang ketipu jadilah gue bales: "Boleh, buat apa ya? Cek DM." Kampret.

Siang itu gue resmi ketipu ngasih nomor handphone gue ke orang misterius yang bilang bahwa dia adalah  seorang editor. Gue sempet bingung, apa dia nggak ada nomor handphone sendiri sampe-sampe minta nomor handphone ke gue? Kalo dia minta nomor handphone gue, nah gue pake apa dong? Pake handphone tanpa nomor atau SIM itu ibarat pacaran tapi nggak ada pacarnya. Bilang aja jomblo gitu. Hambar. Iya, padahal dalem hati gue mah seneng kegirangan karena dihubungin sama editor gini. 


Setelah adegan ngasih nomor itu selesai, akhirnya gue pun ber-sms ria dengan dia. Sorry nih, gue bukan blackberry user dengan fitur chat bbm-nya yang bisa bagi-bagi pin ke orang lain. Gue adalah seorang pengguna handphone biasa. Bagi gue, handphone itu yang penting bisa sms dan telponan. Right? 


"Rumah lo dimana?"
"Mulai nge-blog dari kapan?"
"Ada niat buat nerbitin buku nggak?"
"Besok hujan nggak?"
"Nama gue siapa?"

Kira-kira itu beberapa pertanyaan yang dia tanya ke gue via sms. Gue dengan semangatnya pun membalas:


"Di rumah."

"Dari sejak bikin blog."
"Ada."
"Hujan ringan (17%) di Jakarta."
"Nama gue: Kevin."

Singkat cerita setelah ngobrol-ngobrol via sms, gue pun jadi tau dia adalah seorang Editor di Bukune. Gue jadi tau ternyata dia pengguna Blackberry. Gue jadi tau ternyata dia punya peliharaan kucing berkepala naga. Gue jadi tau kalo jari tangannya ada 12. Gue jadi tau kalo kalian udah ngabisin waktu sekedar buat baca ini.




Dan setelah disepakatin melalui Konferensi Meja Bundar, gue pun janjian ketemu dengan editor itu buat membahas kerja sama nerbitin buku. Mimpi jadi kenyataan! Ibaratnya sekarang itu gue udah ada di depan pintu bernama kenyataan, tinggal masuk doang.
Hari yang gue tunggu-tunggu pun tiba. Gue akan bertemu si editor yang akan dateng bersama seniornya. Wuih, dalem hati gue bangga setengah mati, udah ketemu editor, ketemu senior editornya pula. Jam 16:00 sore adalah waktu yang ditentukan. Gue udah siap-siap dari jam 05:00 pagi saking rajin dan bego-nya. Dan, karena waktu itu gue adalah seorang anak gaul absurd yang juga baru pulang dari Terdampar di Bali, gue mengenakan kaos merah yang gue beli di Krisna, Bali. Kayak gini desainnya:
Bali so tweet, follow me!

Pertama, gue merubah tempat yang udah dijanjikan ke Seven Eleven Mangga Besar. Biar kesannya lebih gaul dan alay maksimal gitu. Kebetulan dia dan seniornya udah jalan naik taksi menuju Gajah Mada Plaza, tempat yang dijanjikan.

"Bilang sama sopir taksinya, di Sevel Mangga Besar aja. Deket kok dari Gajah Mada Plaza." sms gue. 

"Oke." balasnya.

Gue pun dengan gaulnya jalan keluar rumah dengan tas kecil untuk menuju ke Sevel Mangga Besar. Sampai di Sevelnya, gue beli minum dulu, sob. Sambil menunggu-nunggu mereka yang lagi jalan kesini. 5 menit... 10 menit... mereka kok belom nyampe-nyampe ya? 

"Udah sampe mana? Sevel Mangga Besar loh." sms gue dengan penasaran. 

"Udah mau nyampe Sevel Mangga Besar nih, seberang Gajah Mada, kan?" dia bales sambil nanya.

"Waduh, bukan Sevel yang itu!! Kesinian lagi, Mangga Besar!" bales gue, panik.

5 menit.... belom ada balesan.

"Wah lo dimana? Gue udah bolak-balik sama sopir taksinya dari tadi, Sevel Mangga Besar cuman ada di seberang Gajah Mada ini." dia kemudian sms gue. 

"Waduh nyasar jauh, bro. Yaudah tau Hotel Mercure nggak? Gue jalan kesana aja ya, kita ketemuan dulu di sana." bales gue, bersiap-siap jalan ke Hotel Mercure.

"Ooh Hotel Mercure? Gue tau, oke gue kesana ya." 

Ah ternyata dia tau, hati gue langsung tenang. Gue jalan kaki ke Hotel Mercure yang lumayan jauh dan sukses bikin betis kaki gue nangis. 10 menit kemudian, gue nyampe dengan ganteng di depan Hotel Mercure.


Ini Mercure yang gue bilang ke dia.

Nggak berapa lama kemudian, dia nelpon gue.

"Halo, vin? Lo dimana? Gue udah di Hotel Mercure nih. Gue pake kemeja biru." kata dia.

"Ini gue udah di depan Hotel Mercure. Oke, gue pake baju merah ya." bales gue.

"Loh, lo dimananya? Kok nggak ada? Gue di depan Hotel Mercure nih!" sahut dia, nggak mau kalah.

"Loh, gue juga di depan Hotel Mercure nih!" sahut gue lagi, nggak mau kalah. 

Gue mondar-mandir di depan Hotel Mercure nyariin sosok orang berkemeja biru sambil megang handphone. Tapi nggak ada. 

"Kok nggak ada? Depan gue halte busway nih." gue ngasih tau dia.

"Halte busway? Tunggu.... Udah lo ke Sevel seberang Gajah Mada aja, vin. Sekarang." katanya.

Waktu udah menunjukkan pukul 17:30, padahal janjiannya jam 16:00. Ngaret gara-gara nyasar ini, kampret. Dengan lemes dan capeknya, gue langsung menyetujui ajakannya. Secepatnya, gue cari angkot yang menuju kesana, lalu naik. Iyalah masa gue liatin aja itu angkotnya.

Sampai di Sevel, gue ngasih tau dia via sms kalo gue udah nyampe. Iseng, gue masuk Sevel untuk ngadem sambil ngeliatin minuman. Tiba-tiba aja ada sms:

"Vin, lo masuk Sevel ya? Keluar!" sms si editor.

Gue langsung keluar dan sujud sukur karena akhirnya ketemu dia. AKHIRNYA!!! 
 
Saat itu juga gue langsung diajak ke McCafe yang kebetulan deket dari Sevelnya itu. Ternyata setelah basa-basi dikit, gue baru tau kalo dia nunggu di Hotel Mercure yang ada di deket Sevel itu! Kampret! Hotel Mercurenya ada dua ternyata.

Denah yang lagi-lagi gue gambar pake Paint. 

"Senior gue udah nunggu disana tuh. Kita laper, jadi ngobrolnya disana aja ya? Sekalian gue pengin makan, hehehe." kata dia.

Gue cuman ngangguk-ngangguk dan ngikutin dia aja jalan kaki ke McCafe yang jaraknya nggak terlalu jauh dari situ. Langit mulai gelap, sob. Nggak beberapa lama kemudian, sampailah gue di McCafe. Ada senior si editor yang ternyata lagi asik makan ayam Mekdi. Gue langsung kenalan sama dia.

"Gue Fial, sori ya tangan gue kotor, lagi makan nih hehehe." kata dia memperkenalkan diri.

"Gue Kevin. Fial? Kayaknya gue pernah denger." langsung gue buka buku Benabook yang kebetulan gue bawa saat itu.

Yah... kecapek-an ini terobati setelah gue tau bahwa dia itu ternyata: Syafial Rustama (@syafial). Huahahaha dia adalah editor buku yang terbaru saat itu, Benabook! Dia juga yang udah menjadi editor buku-buku terkenal kayak SKRIPSHIT-nya @shitlicious, Koar-Koar Backpacker Gembel-nya @takdos, dan masih banyak lagi. Gue merasa beruntung bisa ketemu editor buku yang selama ini hanya gue ketahui namanya dari buku. Sekarang, secara langsung gue ketemu sama dia! Huehehe, nggak ketinggalan orang yang berjasa "nemuin" gue lewat twitter, Elly (@RyAzzura).


McCafe!

Singkat cerita, kita ngobrol-ngobrol banyak soal gimana kalo gue nerbitin buku, dunia tulis menulis, dan lain-lain yang berkaitan dengan buku. Sampai akhirnya saat itu juga Elly membuat outline untuk buku pertama gue yang mudah-mudahan jadi terbit. Yeah!

Selama dua minggu, gue nggak lepas dari komputer dan tentunya Microsoft Word buat ngetik naskah gue ini. Dan, setelah diberi sedikit asupan dari mereka, akhirnya naskah gue kelar. Sekarang lagi proses pengeditan aja. Doain aja lancar dan cepet terbit.


Sedikit tampilan folder naskah.

Pertemuan dengan Editor Bukune, yang secara nggak sengaja "menemukan" blog absurd ini dan akhirnya terbentuklah: naskah gue. Cita-cita gue sebentar lagi jadi kenyataan. Semoga aja. Amin :))


-------------------------------


Kabar terbaru yang gue dapet dari si editor, bulan depan (Juni), iya... buku gue dijadwalin terbit! Yeah!